Analisis Diksi dan Majas Dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin

Desember 17, 2011 § Tinggalkan komentar

Gaya bahasa sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa: ragam lisan dan ragam tulis, ragam nonsastra dan ragam sastra, karena gaya bahasa ialah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu dan untuk maksud tertentu (Sobur, 2004:82). Maksud dari pernyataan itu ialah segala ragam bahasa pasti di dalamnya terdapat unsur gaya bahasa. Berdasarkan cakupannya, gaya bahasa memiliki beberapa bagian yaitu diksi (pilihan kata), struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra (Sudjiman, 1993:13-14).
Akan tetapi analisis yang saya lakukan dari kumpulan cerpen “Senyum Karyamin” karya Ahmad Tohari hanyalah gaya bahasa dan majasnya saja. Agar mempunyai fokus pengkajian yang jelas.
Diksi, menurut Keraf(2006:22-23), bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. Diksi atau pilihan kata dapat mempengaruhi penyampaian makna (Sudjiman, 1993:22).Pilihan kata yang dimaksud tentunya bukan hanya mencari kemudian memasangkan kata yang puitis, tetapi pilihan kata itu meliputi proses pencarian, penyelesaian dan pemanfatan kata-kata tertentu yang dapat menimbulkan nilai estetika atau keindahan dalam arti luas dan sekaligus sarat makna serta efisen dan mampu merefleksi tema yang dijabarkan.
Majas, menurut Keraf (2006:113), majas  ialah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa supaya bahasa terlihat imajinatif. Maksudnya pengarang menggunakan majas untuk membangun karya tersebut menjadi menarik dan memiliki nilai estetika yang tidak mudah untuk ditebak oleh pembaca. Biasanya setiap penulis memiliki ciri khasnyamasing-masing dalam menggunakan majas.
Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak digunakan pengarang adalah bentuk pembandingan atau persamaan, yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya berupa ciri fisik, sifat, sikap, keadaan, suasana, tingkah laku, dan sebagainya. Bentuk perbandingan tersebut dilihat dari sifat kelangsungan pembandingan persamaannya dapat dibedakan  ke dalam bentuk simile, metafora dan personifikasi.
Simile menyarankan pada adanya perbandingan langsung dan eksplisit, dengan menggunakan kata-kata: seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip dan lain sebagainya.
Metafora, merupakan gaya perbandingan yang bersifat langsung dan implisit. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugestif, tidak ada kata-kata penunjuka perbandingan eksplisit.
Personifikasi, merupakan gaya bahasa yang memberikan sifat-sifat benda dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia.
Berikut adalah hasil analisis kumpulan cerpen “Senyum Karyamin” karya Ahmad Tohari,
Ahmad tohari membuka cerita dengan menggunakan gaya penulisan informatif dan deskriptif dalam beberapa hal;
‘Kasdu terus berjalan. Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang membelah perbukitan. Kiri-kanan jalan adalah tebing dengan cadasnya yang kering-renyah berbongkah-bongkah. Kala musim hujan, jalan itu adalah sebuah kali yang mengalirkan air dengan deras dari puncak bukit. Air yang keruh meluncur dari atas menggerus tanah, sehingga jalan itu makin lama makin dalam.’ (Senyum Karyamin:12, Si minem beranak bayi)
Pemilihan kata atau diksinya menimbulkan irama yang membuat pembaca menikmati irama tersebut menjadi sebuah estetika pembuka yang enak. Menarik. Berikut ini adalah contoh yang lain-lainnya:
‘Bunga-bunga api kecil melentik ke udara ketika tangan Suing mengusik perapian. Tangn yang pucat dan bergerak lemah. Tengkuk dan dahi Suing berkeringat. Bukan karena terik matahari atau panasnya perapian, melainkan keringat dingin hasil pelepasan kalori terakhir sebekum seseorang jatuh pingsan karena kehabisan tenaga.’ Senyum karyamin:17, Surabanglus)

‘Hari ini sebuah sumber berita yang amat terpercaya mengatakan bahwa Sutabawor sedang mengadakan syukuran. Konon tiga ekor ayam yang tidak begitu besar dipotong. Para tetangga diundang makan-makan. Sumber berita itu selanjutnya mengatakan Sutabawor merasa perlu, amat eprlu menyelenggarakan syukuran karena akhirnya dia berhasil menyingkirkan kekesalan hidup yang menghimpitnya selama beberapa tahun.’ (Senyum Karyamin: 38, Syukuran Stabawor).
Ahmad tohari membuat kalimat pembuka dengan pilihan diksi yang membuat penasaran pembaca untuk terus melanjutkan membaca.
Setelah melakukan pembukaan yang menarik, Ahmad Tohari membuat penutup yang mencengangkan, yakni diakhiri dengan ironis.
‘…. ketika melihat tubuh karyamin jatuh ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.’ (Senyum Karyamin:6, Senyum Karyamin)
Kita bisa bayangkan seseorang yang jatuh ke lembah dan tidak bisa diselamatkan pasti sudah mati. Berikut penggalan akhir cerita kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang lainnya:
‘……..,
“Dengar, Suing! Kau makan jugakah singkong itu?”
Suing bungkam, bahkan rebah ke tanah.(Senyum Karyamin:21, Surabanglus)

Dengan pilihan kata (Diksi) tersebut, kita bisa membayangkan keadaan Suing dan temannya sangat buruk. Suing dalam ketidakberdayaan dan bahkan mungkin telah mati.

Itu adalah contoh diksi yang bisa ditemukan di dalam kumpulan cerpen Ahmad Tohari “Senyum Karyamin” tersebut. Keseluruhan cerita yang ada di dalam kumpulan tersebut diawali dan diakhiri dengan gaya yang sama. Deskriptif untuk membuka dan Ironis untuk mengakhiri. Meskipun secara umum, gaya bercerita Ahmad Tohari mengalir dengan sangat menyenangkan seperti air mengalir dari hulu hingga ke hilir, tetap saja Ahmad Tohari menyediakan kejutan diakhir air itu bermuara.
Berikut ini majas-majas yang digunakan oleh Ahmad Tohari untuk memperkaya ceritanya, menjadi cerita imajinatif yang kreatif dan memiliki nilai estetika. Karena Ahmad Tohari juga membawa kita pada suasana pedesaan yang kental dengan lingkungan yang miskin kita bisa merasakannya lewat atmosfer diksi dan majas yang digunakannya sangat tepat untuk menggambarkan situasi yang diinginkan.
“ Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati….’ (Senyum Karyamin:1, Senyum Karyamin) majas yang digunakan dalam kalimat ini ialah majas Metafora. Pilihan kata merayap untuk membandingkan Karyamin dengan hewan melata sebenarnya untuk membangun kesan di dalam benak pemabca bahwa Karyamin dalam keadaan yang tak berdaya, kesakitan dan lemah.
‘….Angin di dengarnya bersenandung tembang mangayubaya. Kenthus telah dilambungkan dari kelas terbawah ke atas panggung kehidupan.’ (Senyum Karyamin:47, Kenthus)
Pilihan kata angin di dengarnya bersenandung, seolah-olah membawa pembaca untuk membenarkan khayalan tokoh bernama kenthus bahwa angin mampu bernyanyi atau bersenandung dalam penggalan cerita tersebut. Kesan lain yang ingin di sampaikan oleh Ahmad Tohari melalui kalimat tersebut ialah bahwa suasana di dalam cerita sangat menyenangkan, membuat hati tokoh bahagia dan lain sebagainya.
Berikut ini penggunaan majas personifikasi yang lainnya didalam cerpen Ahmad Tohari. ‘….Teriakannya di telan oleh bunyi mesin yang meraung-raung….’ (Senyum Karyamin:65, Pengemis dan Salawat Badar)
Berbeda dengan pilihan kata berikut ini:
‘…. Bahkan Dawet(istrinya) bukan hanya kelihatan demikian kerdil, melainkan juga buruk tidak kepalang. Matanya sepele seperti mata laron….’ (Senyum Karyamin:47, Kenthus) Jelas majas yang digunakan ialah majas simile, membandingkan mata manusia (Dawet) dengan mata laron. Menggunakan kata seperti di dalamnya menjadikan ciri majas simile  semakin jelas adanya.
Ahmad tohari memang lihai dalam mendeskripsikan situasi yang ada di dalam konflik sebuah cerita.
‘Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahn ya tak ada sesuatu pun buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya….’ (Senyum Karyamin:5, Senyum Karyamin)
Hanya dengan kalimat tersebut diatas, Ahmad Tohari sudah mempu menunjukkan keadaan yang sangat miskin.
“Oalah Gusti…panggilkan modin… Kang Sanwirya hampir ajal…” kami berempat mengintip ke dalam. Dukun sedang menyilangkan tangan Sanwirya lalu mengusap kelopak matanya agar tertutup. Sampir menjadi sangat pucat. Ia hendak lari dan kupengangi lehernya.
“Kau sampir! Ada jasa yang masih dapat kau lakukan. Turuti permintaan Nyai Sanwirya memanggil modin!”
dan sampir lari ke sana. Di bawah pohon manggis, aku lihat dia jatuh tersandung pongkor dan lari.” (Senyum Karyamin:11,Jasa-jasa buat Sanwirya)

Terasa benar situasi yang tidak enak di dalam cerita. Sebuah kepanikan dan kekagetan bergabung secara bersamaan di dalamnya.
‘Kecuali Rabu kemarin. Kemarin kami pulang dari surau kala pagi masih remang oleh kabut, ada orang seberang kali sudah berdiri di halaman rumahku.’ (Senyum Karyamin:53, Orang-orang Seberang Kali)
Ahmad Tohari menggunakan kalimat kala pagi masih remang oleh kabut, kita bisa membayangkan suasana pagi diwaktu subuh disebuah desa yang masih dipenuhi oleh pohon-pohon yang rindang. Di beberapa rumah sudah ada yang mulai memasak sehingga mengepulkan asap dan terkesan seperti kabut tipis yang menyebar di seluruh desa.
Ada lagi kalimat di bawah ini,
‘Lalu kalian mengiria titian batang pinang jarang dilalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir dan melayang jatuh ke bawah lalu hinggap diatas pasta kuning?…..'(Senyum Karyamin:53, Orang-orang Seberang Kali)’
pilihan kata dalam kalimat-kalimat tersebut sangat menarik, mampu membangun sebauh imajinasi tentang suatu hal yang lucu terutama hinggap diatas pasta kuning. Mengapa Ahmad Tohari tidak menggunakan kalimat tahi manusia? Karena dengan menggunakan kata tahi manusia tentunya pembaca tidak perlu menebak-nebak sehingga keindahan dalam cerita ini berkurang. Kesan lucu di dalamnya berkurang, menjadi jijik yang berlebihan. Coba bandingkan dengan kalimat pasta kuning? Orang-orang akan mengartikan sendiri kalimat tersebut dan diam-diam tertawa membayangkan apa itu pasta kuning.

Demikianlah Ahmad Tohari membuat daya magis di dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Senyum Karyamin itu menjadi hidup dan menarik untuk dikajai. Tidak hanya karena latar belakang sosial tokoh dalam cerpen adalah orang-orang kelas bawah saja yang menarik, sehingga membawa kita kepada sebuah realitas yang mungkin selama ini kita abaikan. Bahwa mereka ada. Dengan gaya hidup masing-masing. Namun, Ahmad Tohari berhasil membangun suasana desa itu menjadi dekat kepada pembaca dengan gaya berceritanya. Pilihan-pilihan kata dan majas yang dipilihnya menimbulkan kesan estetis. Sapardi mengatakan, gaya bercerita dan tema pilihan Ahmad Tohari tiada duanya.

About these ads

Tagged: , , , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analisis Diksi dan Majas Dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin at Dreamhigh.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: